Pemerintah = Melayani?

Tidakkah aneh bagi anda ketika mendengarkan pidato para petinggi atau pimpinan institusi birokrasi yang mengatakan bahwa pemerintah bertugas melayani masyarakat dan aparatur pemerintah (PNS) adalah abdi negara (masyarakat, rakyat)? Kata 'pemerintah' berasal dari kata 'perintah' dan karenanya kata pemerintah berarti 'yang memberi perintah'. Nah, bagaimana mungkin si tukang perintah kini diminta untuk melayani? Dua hal yang bersifat paradoksal, pastinya.

Itulah salah satu contoh paradigma (cara pandang) yang harus digeser atau dirubah mengingat perubahan dan tuntutan jaman dimana rakyat/masyarakat telah menjadi pelanggan yang menentukan keberlangungan dan eksistensi sebuah pemerintah akibat demokratisasi. Rakyat kini bisa memilih pemerintah mana yang mereka kehendaki untuk "melayani" mereka. Mereka bukan lagi sekumpulan orang yang bodoh dan bergantung kepada pemerintah, tetapi telah menjelma menjadi pelanggan pintar yang mampu memproduksi sendiri apa yang bisa diproduksi oleh pemerintah (apabila diijinkan). Kini rakyat bisa mencetak KTP yang lebih bagus dari buatan pemerintah, menelola perusahaan yang lebih baik dari BUMN, bahkan bikin kota yang lebih rapi dan nyaman daripada yang dikelola oleh pemerintah! Kebergantungan itu kini bisa berbalik arah dan sudah tentu yang ideal hendaknya diarahkan menjadi saling bergantung.

Kita teruskan paradigma lama tadi. Dengan paradigma birokrasi sebagai tukang perintah maka dibuatlah organisasi yang hirarkis berujud piramida dimana makin ke puncak seseorang memiliki semakin besar kekuasaan untuk memerintah dan wewenang untuk mengontrol orang dibawahnya dan karenanya disebut anak buah. Anak buah pertama ini pun mengikuti pola pikir demikian, begitu seterusnya hingga yang paling bawahpun melihat rakyat sebagai harus diperintah dan diawasi. Paradigma tersebut membentuk pola pikir (mind-set) "Command & Control" dan menjadi dasar pola pikir bagi sistem manajemen organisasi secara keseluruhan.


Di dunia bisnis, sudah dua dekade belakangan ini para pebisnis menyadari benar piramida terbalik, bukan lagi para pimpinan dan aparat organisasi menjadi raja diatas konsumen, melainkan konsumenlah yang menjadi pihak yang harus dilayani.



Contoh diatas hanyalah salah satu paradigma dan mind-set dari seperangkat paradigma dan mind-set (lihat Mind-Set, klik disini) yang harus digeser dalam rangka melaksanakan Reformasi Birokrasi. Siapkah anda..??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MITRA RB