REVOLUSI MENTAL dan REFORMASI BIROKRASI
Apakah Reformasi Birokrasi yang selama ini didengung-dengungkan dan telah dikerjakan (walau masih tertatih-tatih) akan ditinggalkan?
Sebenarnya dan seyogyanya tidak!
Kalau anda teliti dengan baik, Reformasi birokrasi pada hakekatnya memerlukan perubahan fundamental dalam pola pikir (mindset) ataupun paradigma kita. Sayangnya selama ini Perubahan Mindset dalam Reformasi Birokrasi ditempatkan pada Area Perubahan ke 9, bukan yang pertama! Karena itu sering diabaikan atau tidak menjadi prioritas.
Pengalaman menunjukkan bahwa berbagai upaya perubahan telah banyak dilakukan oleh banyak kementerian berikut instansi di bawahnya baik berupa sistem, struktur dan lainnya, tetapi sesungguhnya tidak berjalan dalam praktik kehidupan sehari-hari! Apa sih penyebabnya?
Penyebabnya jelas karena perubahan sistem dan kelembagaan itu tidak didahului dan kemudian diikuti dengan peubahan sikap mental sebagaimana yang dituntut oleh Reformasi Birokrasi itu sendiri. Kita masih menggunakan paradigma dan konsep berpikir model birokrasi lama dalam menjalankan sistem dan perangkat yang baru!
Karena itu jelas pula bahwa Revolusi Mental tidak bertolak belakang atau menggantikan Reformasi Birokrasi melainkan justru untuk memperkuatnya. Bahkan menekankan perlunya penekanan pada perubahan mental sebelum melakukan Reformasi Birokrasi.
Reformasi Birokrasi menuntut adanya perubahan mind set (pola pikir) dari birokrasi lama menjadi pola pikir birokrasi baru. Ini berarti harus menggeser paradigma (Paradigm shifting) dari paradigma era industrial menjadi paradigma yang dituntut oleh era informasi. Mindset seperti apa saja yang harus dirubah silakan baca di blog ini juga tentang Mindset.
Anda juga bisa mempelajari bagaimana melakukan Revolusi Mental di "Panduan Revolusi Mental" disini.
Tools Baru Untuk Reformasi Birokrasi
Tools terkini yang dapat anda gunakan untuk meningkatkan layanan komunikasi organisasi anda adalah Talk Fusion, yang menyediakan fasilitas 9 in 1 paket, meliputi:
- Email ber-video (Video Email)
- Buletin ber-video (Video Newsletters)
- Siaran Langsung (Live Broadcasting)
- Konferensi Video (Video Conferencing)
- Langganan Elektronic (E-Subscription)
- Perespon Otomatis (Auto Responder)
- Berbagi Video (Video Sharing)
- Fusion On The Go
- Media Sosial Jejaring Video (Video Networking - Fusion Wall)
Semua fasilitas diatas bisa digunakan dengan mudah tanpa perlu memiliki pengetahuan khusus karena sudah disediakan ratusan template siap pakai yang dirancang secara profesional. Info lengkapnya silakan kunjungi video komunikasi.
1. Video Email
Video Email atau Email Bervideo adalah bentuk revolusioner dari email tidak berbasis teks (konvensional) melainkan berbasis video tanpa merepotkan penerima email karena tidak perlu download maupun attachment. Komunikasi melalui video tentu lebih menarik daripada membaca teks atau gambar mati.
2. Video Newsletters
Buletin bervideo ini sungguh menarik karena dilengkapi dengan video dan mudah dibuat karena tersedia 700 template buletin yg cantik profesional sehingga anda tidak perlu repot-repot mendesain sendiri tampilan buletin.
Yang lainnya silakan anda baca saja sendiri dari sumbernya disini
Peta Resistensi Pegawai Terhadap Perubahan
Tersedia juga soft copy plus contoh yang sudah jadi berikut Gambar dan Tabel.
Silakan kontak, bila anda memerlukannya
Tabel peta Pemangku Kepentingan
Tabel Pengaruh Pemangku Kepentingan dalam Perubahan
Tools dan metoda untuk menghasilkan data dapat dilihat disini.
Peta Pemangku Kepentingan
Tersedia juga soft copy plus contoh yang sudah jadi berikut Gambar dan Tabel.
Silakan kontak, bila anda memerlukannya.
Template PENDAHULUAN Strategi Manajemen Perubahan
Tersedia juga soft copy plus contoh yang sudah jadi berikut Gambar dan Tabel.
Silakan kontak, bila anda memerlukannya.
PENGANTAR Strategi Manajemen Perubahan
Posting ini memuat 3 hal:
- Kata Pengantar
- Arahan Menteri terkait
- Instruksi Kepala Lembaga/Unit Kerja terkait
1. "Kata PENGANTAR" buku/dokumen Strategi MP:
- Maksimum banyak 5 paragraf/alinea (kalau terlalu banyak, tidak ada yang membaca)
- Setiap Paragraf/alinea maksimum 5 baris (biar pas 1 halaman kwarto dan enak dilihat)
- Gunakan Font Calibri, line spacing 1,15
- Isi seperti dibawah ini
- Kata/kalimat yg dicetak miring adalah pesan utama setiap alinea, kata-kata yang lain silakan anda oprek sendiri
|
|
|
Kata Pengantar
|
|
Buku/dokumen
ini merupakan dokumen resmi
strategi manajemen perubahan ..........dst
Materi dokumen/buku ini dihasilkan melalui serangkaian
kegiatan ............dst
Pendekatan perubahan yang dipilih adalah
perubahan .... (mis.transformasional) yang dilakukan secara sistematis,
terpadu serta melalui........ dst
Buku ini diharapkan dapat menjadi pegangan bagi Para pemangku kepentingan dan....dst
Sebagai landasan kerja ........., target-target
dan program-program kerja selalu dimungkinkan untuk disesuaikan sesuai dengan kemajuan yang dicapai, ......dst
|
|
Semoga Sukses,
Demi Kejayaan NKRI
Tim Penyusun
|
2. ARAHAN Menteri terkait
- Maksimum banyak 5 paragraf/alinea (kalau terlalu banyak, tidak ada yang membaca)
- Setiap Paragraf/alinea maksimum 9 baris (biar pas 1 halaman kwarto dan enak dilihat)
- Gunakan Font Calibri, line spacing 1,15
- Isi seperti dibawah ini
- Kata/kalimat yg dicetak miring adalah pesan utama setiap alinea, kata-kata yang lain silakan anda oprek sendiri
|
|
|
ARAHAN MENTERI xxxxxxxxxx REPUBLIK INDONESIA
|
|
Reformasi Birokrasi ................ untuk menjadikan
................. mampu memberikan layanan publik berkelas
dunia, bebas KKN, transparan dan akuntabel. Kementerian xxxxxxxxxx bertekad
melaksanakan Reformasi Birokrasi secara..................
Sebagaimana .............
kinerja Kementerian xxxx memiliki
arti penting ........., dan lembaga/unit kerja xxx memiliki
tanggung jawab ............
Oleh
karena itu RB menjadi mutlak perlu dilakukan................
mampu menciptakan kinerja unggul organisasi birokrasi yang dituntut oleh
masyarakat Indonesia.
Reformasi Birokrasi yang ........., hendaknya terus dilaksanakan secara konsisten dan diakselerasikan demi ............... Perhatian dan segala daya upaya hendaknya
pula fokus pada area-area perubahan
.................
Kepada pimpinan dan warga lembaga/unit kerja xxx saya menyampaikan penghargaan ....................
Kemampuan ini menunjukkan bahwa lembaga/unit kerja xxx mampu
mengantisipasi tuntutan perubahan ................
Dengan terbitnya buku ............... saya mengharapkan agar benar-benar dapat dipergunakan sebagai .................. sebagaimana diharapkan. Tak
lupa saya menyampaikan apresiasi yang
mendalam kepada ..................
Semoga kerja keras saudara menjadi inspirasi bagi para pelaku perubahan
dimanapun kita bertugas.
|
|
Dan semoga Tuhan YME merestui kita. Amin.
Ttd
Menteri xxx
|
3. Instruksi Kepala Lembaga/Unit Kerja terkait
- Maksimum banyak 5 paragraf/alinea (kalau terlalu banyak, tidak ada yang membaca)
- Setiap Paragraf/alinea maksimum 9 baris (biar pas 1 halaman kwarto dan enak dilihat)
- Gunakan Font Calibri, line spacing 1,15
- Isi seperti dibawah ini
- Kata/kalimat yg dicetak miring adalah pesan utama setiap alinea, kata-kata yang lain silakan anda oprek sendiri
|
|
|
INSTRUKSI KEPALA xxxxxxxxxx
|
|
Reformasi Birokrasi ...... mengamanatkan ............. Sebagai suatu program ........., Lembaga/unit
kerja xxx melaksanakan reformasi birokrasi untuk ...........sesuai
dengan amanat reformasi Birokrasi itu sendiri. Program ini bersifat jangka
panjang dan berkesinambungan, .......................
Mengingat pentingnya program ini maka menjadi mutlak perlunya dibuat strategi
(manajemen) perubahan yang ................. Penataan ......... dimulai
dengan melakukan ............................
Oleh karena itu saya menginstruksikan .............. untuk menjalankan secara konsisten ................ Traget-target
strategis .................. hendaknya menjadi
acuan .................. Strategi unggulan yang telah ditetapkan ..............
hendaknya dapat dicapai sesuai rencana
.............................
Buku strategi MANAJEMEN PERUBAHAN ini memuat secara sistematis dan rinci
segala aktivitas perubahan yang kita perlukan untuk ............................ Lakukan
siklus Plan-Do-Check-Action (PDCA) .............. dengan berpedoman pada buku ini, sehingga tidak ada aktivitas yang berjalan secara terpisah sendiri-sendiri.
Namun demikian, buku ini tetap memerlukan masukan dan penyempurnaan .................
Muatan ..........dapat berubah sesuai
dengan perkembangan dan kemajuan .......
Kepada Tim Penyusun buku ini saya menyampaikan penghargaan yang tinggi atas jerih
payahnya sehingga buku ini dapat hadir sebagai ...........................
|
|
Semoga!.
Ttd
Kepala xxx
|
Template Strategi Manajemen Perubahan
Template ini dibuat sesuai dengan Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Perubahan, Permenpan/RB no.10 Tahun 2011.
Klik pada setiap poin untuk mengetahui penjelasan lebih rinci.
Semoga bisa membantu anda.
Jika ada pertanyaan silakan isi komentar dibawah atau kontak langsung aja kalau sudah kebelet....
BAB I. PENDAHULUAN
|
BAB II. IDENTIFIKASI AWAL BP KONSTRUKSI
|
3.
Besaran Perubahan Yang Diinginkan
|
4.
Kesiapan Organisasi Untuk Berubah
|
BAB III. STRATEGI PERUBAHAN (Lembaga/Unit Kerja)
|
1.
Elemen dan Tahapan Perubahan/RB
|
2.
Grand Scenario Navigasi Manajemen Perubahan RB (Lembaga/Unit Kerja)
|
BAB IV. STRATEGI MASING-MASING
ELEMEN DAN TAHAPAN
|
1.
Strategi Kepemimpinan Untuk Memimpin perubahan/RB
|
2.
Strategi Mengelola Insan & Pelaku Perubahan (Lembaga/Unit Kerja)
|
3.
Strategi Membangun 4 Kompetensi Untuk Perubahan Berkelanjutan
|
4.
Strategi Mengelola 3 Roda Aktivitas Utama
|
5.
Strategi Mengelola Perubahan 8 Area Perubahan
|
6.
Strategi Mengelola Pencapaian 6 Stepping Stone
|
7.
Strategi Mengelola 4 Fase/tahapan Perubahan
|
8.
Strategi Mengelola 4 Prasyarat Sukses
|
BAB V. STRATEGI
PENINGKATAN KEMAMPUAN MELAKSANAKAN PERUBAHAN
|
1. Strategi Komunikasi
|
2.
Strategi Pelatihan
|
BAB VI. INSTRUMEN PENGELOLAAN
PERUBAHAN
|
1. Sistem Pelaksanaan
|
2.
Sistem Komunikasi
|
3.
Sistem monitor dan Evaluasi
|
4.
Sistem Pelaporan
|
BAB VII. STRUKTUR BARU DAN
INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)
|
1.
Rumusan dan Definisi Struktur Baru
|
2.
Standard dan Indikator Kinerja Utama (IKU)
|
BAB VIII. JADWAL
|
1.
Jadwal Aktivitas Manajemen Perubahan
|
2.
Jadwal Pelatihan
|
3.
Jadwal Monitoring Pelaksanaan Perubahan
|
4.
Jadwal Pengukuran Kinerja
|
5.
Jadwal Evaluasi Skenario Navigasi
|
6.
Jadwal Pelaporan
|
Memimpin dan Mengelolan Reformasi Birokrasi di Lembaga Anda
- Meletakkan Program RB sebagai Prioritas.
- Bersikap persisten dan ‘ngotot’ membela perlunya program RB dilakukan.
- Menyediakan dan mengusahakan tersedianya sumberdaya bagi program RB
- Kreatif dan jeli mencari solusi bila terjadi kesulitan, hambatan maupun tantangan yang menghadang program RB
- Mau terlibat dalam menyusun rencana aksi tindak lanjut secara rinci dan detil.

Jajaran pimpinan dan key person institusi hendaknya bertekad memenuhi tuntutan ‘Strong Leadership’ yang diamanatkan oleh Program RB guna mewujudkan Transformasi Organisasi menuju Lembaga birokrasi yang berkelas Dunia.
Insan Pelaku: Mengawal Perubahan
Mengingat tingginya kompleksitas pekerjaan di dalam program reformasi birokrasi yang dilakukan secara transformasional, maka perlu disiapkan tim kerja yang kuat untuk mengawal kegiatan-kegiatan perubahan dan fokus pada suatu aspek tertentu agar diperoleh telaahan dan rumusan yang dalam dan tepat mengena. Dengan mempertimbangkan berbagai hal, terutama ketersediaan sumber daya manusia, pengorganisasian kerja Transormasi organisasi hendaknya dilakukan dengan membentuk Tim Transformasi RB dilengkapi dengan Pokja-Pokja yang membidangi Area Perubahan tertentu, seperti Pokja Budaya, Pokja Model Operasi atau Ketatalaksanaan, Pokja Strategi Organisasi, Pokja Human Capital, Pokja Manajemen Perubahan, dan sejenisnya sesuai kebutuha.

Pada dasarnya pengorganisasian diatas dimaksudkan lebih kepada fokus dan kedalaman analisa maupun rumusan-rumusan rencana detil elemen-elemen pada masing-masing aspek yang menjadi tanggung jawab setiap Kelompok Kerja (POKJA) dengan bertumpu pada keselarasan skenario utama yang ditetapkan oleh Tim Transformasi Organisasi (TTO). Rencana-rencana detil tersebut haruslah bermuara pada kriteria serta ukuran-ukuran kuantitatif yang menantang (set high target) agar mengarah kepada pencapaian Visi maupun Stepping Stone (Sasaran antara).
Pembentukan TTO maupun Pokja Perubahan hendaknya dilengkapi pula dengan Misi, Tugas/Fungsi, serta Prinsip-Prinsip Kerjanya.
Dunia Baru Kita: The World 2.0
Tuntutan konsumen yang paradoksikal tersebut telah pula memaksa terjadinya strategi dan konsep baru dalam dunia industri dan perdagangan yakni strategi aliansi yang marak sejak awal tahun 2000-an. Dan kini, sejak 2005, telah memuncak dengan munculnya konsep baru Shareable dan Collaborativeable yang dimulai dari dunia internet sebagai Web 2.0 dan kemudian menjadi paradigma baru: “Coopetitive value” (Cooperation & Competition).
Paradigma Coopetitive menuntut perlunya kolaborasi untuk menghasilkan produk yang “Baik, Murah dan Cepat” dan untuk itu setiap kolaborator atau individu harus memiliki kompetensi yang tinggi agar dapat bergabung. Adapun kompetensi yang tinggi tersebut harus dicapai dengan berlatih dan bertanding, bukan untuk saling mematikan tetapi untuk mempertinggi kualitas kompetensi yang dimilikinya. Inilah dunia baru masa kini dan ke depan dan kami menyebutnya sebagai Dunia baru World 2.0.
Lihat juga disini:
Skenario Perubahan
1. Aktivitas Utama
2. Prasyarat Sukses
3. Stepping Stone
4. Tahap Transformasi
5. Insan Pelaku
6. Esensi Pembaruan
Disamping hal-hal penting diatas, maka dalam menyusun Grand Scenario hendaknya mencakup hal-hal berikut ini agar fungsinya sebagai panduan utama Program Transformasi tercapai:
• PENJURU yang JELAS
• HOLISTIK dan TERPADU
• TAHAPAN yang JELAS
• LANGKAH-LANGKAH yang PASTI
• ASPEK/OBYEK PERUBAHAN
• UKURAN SUKSES
• PELAKU PERUBAHAN
Envisioning
Proses perumusan The Winning Formula dan The Success Model yang akan dibahas secara rinci pada artikel berikutnya, adalah bagian dari langkah envisioning (minus Sasaran Kelompok dan Individu).
Secara garis besar envisioning mencakup:
• Vision Redefinition (mendefinisi ulang visi organisasi)
• Business Plan (Perencanaan Usaha)
• Strategy Development (Pengembangan Strategi)
• Success Model (Penetapan Kriteria Sukses)
• Goals & Targets (Penetapan Tujuan dan Sasaran)

Jelas kiranya bahwa langkah envisioning tidak lain merupakan tindakan untuk menghasilkan rumusan-rumusan dalam The Winning Formula dan The Success Model.
Landasan Implementasi Reformasi Birokrasi

Tentu kita sepakat pe[aksanaan Reformasi Birokrasi bukan sekedar membuat laporan atas delapan Area Perubahan berdasarkan format-format laporan yang telah ditentukan tanpa skenario perubahan dan landasan yang sistematis dan terarah.
Ibarat ingin merombak sebuah rumah, kita tidak bisa hanya sekedar memperbaiki disana sini bagian dari rumah satu persatu (peacemeal approach) entah itu mengganti pintu atau menambah kamar di lantai dua, tetapi langkah pertama yang harus dibuat adalah membuat pondasi baru sebagai landasan bagi seluruh komponen baru rumah yang akan dibuat atau diperbaiki. Dan landasan sebuah rumah yang hidup tidaklah sekedar bangunan fisiknya saja melainkan harus pula disertai dengan konsep aura/roh yang nantinya akan mewarnai kehidupan penghuni rumah tersebut. Lantas, apa saja landasan rumah birokrasi yang hendak dirombak (reformasi)?
- Envisioning
- Skenario Perubahan
- Pelaku perubahan
- Change Leadership
- Roda Pembaruan
- Change Management
- Building New Culture
- Building New Infrastructure.’
- Building New Competencies
- Creating New Customer Value
Pemerintah = Melayani?

Kisah Sapi Ber-NIP

Masalah-Utama Utama Birokrasi Kita

a. Organisasi
Organisasi pemerintahan belum tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing). Maksudnya ada fungsi yang sebenarbya tidak diperlukan tapi diada-adakan, sebaliknya ada fungsi yang diperlukan namun justru tidak ada. Dari segi ukuran organisasi juga sering tidak proporsional. Birokrasi pemerintah banyak yang masih gendut kelebihan lemak yang tidak perlu (dan biasanya membawa penyakit pula) serta terlalu banyak lapisannya (layer) yang menimbulkan rantai birokrasi yang panjang. Singkatnya tidak ramping dan atletis (slim and flat).
b. Peraturan perundang-undangan
Beberapa peraturan perundang-undangan di bidang aparatur negara masih ada yang tumpang tindih, inkonsisten, tidak jelas, dan multitafsir. Selain itu, masih ada pertentangan antara peraturan perundang-undangan yang satu dengan yang lainnya, baik yang sederajat maupun antara peraturan yang lebih tinggi dengan peraturan di bawahnya atau antara peraturan pusat dengan peraturan daerah. Di samping itu, banyak peraturan perundang-undangan yang belum disesuaikan dengan dinamika perubahan penyelenggaraan pemerintahan dan tuntutan masyarakat.
c. SDM Aparatur
SDM aparatur negara Indonesia (PNS) saat ini berjumlah 4,732,472 orang (data BKN per Mei 2010). Masalah utama SDM aparatur negara adalah alokasi dalam hal kuantitas, kualitas, dan distribusi PNS menurut teritorial (daerah) tidak seimbang, serta tingkat produktivitas PNS masih rendah. Manajemen sumber daya manusia aparatur belum dilaksanakan secara optimal untuk meningkatkan profesionalisme, kinerja pegawai, dan organisasi. Selain itu, sistem penggajian pegawai negeri belum didasarkan pada bobot pekerjaan/jabatan yang diperoleh dari evaluasi jabatan. Gaji pokok yang ditetapkan berdasarkan golongan/ pangkat tidak sepenuhnya mencerminkan beban tugas dan tanggung jawab. Tunjangan kinerja belum sepenuhnya dikaitkan dengan prestasi kerja dan tunjangan pensiun belum menjamin kesejahteraan.
d. Kewenangan
Masih adanya praktek penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dan belum mantapnya akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.
e. Pelayanan publik
Pelayanan publik belum dapat mengakomodasi kepentingan seluruh lapisan masyarakat dan belum memenuhi hak-hak dasar warga negara/penduduk. Penyelenggaraan pelayanan publik belum sesuai dengan harapan bangsa berpendapatan menengah yang semakin maju dan persaingan global yang semakin ketat.
f. Pola pikir (mind-set) dan budaya kerja (culture-set)
Pola pikir (mind-set) dan budaya kerja (culture-set) birokrat belum sepenuhnya mendukung birokrasi yang efisien, efektif dan produktif, dan profesional. Selain itu, birokrat belum benar-benar memiliki pola pikir yang melayani masyarakat, belum mencapai kinerja yang lebih baik (better performance), dan belum berorientasi pada hasil (outcomes).




















